Beranda Daerah Pali Jalan Miliaran Rupiah, Beton Keropos, Warga PALI Angkat Suara

Jalan Miliaran Rupiah, Beton Keropos, Warga PALI Angkat Suara

4
0

 

VENEWS – Harapan masyarakat akan hadirnya jalan kokoh di jalur vital Simpang Raja menuju Jerambah Besi, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), mendadak berubah menjadi keresahan.

Proyek pengecoran jalan senilai Rp 11,03 miliar yang digadang-gadang menjadi penopang aktivitas ekonomi, kini disoal warga karena kualitas beton diduga jauh dari perencanaan.

Dari penelusuran lapangan, cor beton yang seharusnya bermutu K350 dengan tebal pengerasan 10 cm dan tebal cor 30 cm, justru terlihat keropos di beberapa titik.

Penutup curing compound yang semestinya digunakan diganti dengan plastik hitam seadanya. Hasilnya, permukaan jalan tampak rapuh bahkan sebelum selesai dikerjakan.

Rendi, warga Jerambah Besi yang setiap hari melintas, mengaku kecewa.

“Kalau pekerjaan itu diteruskan, kami yakin kualitas jalan tidak akan tahan lama. Banyak titik pengecoran keropos, dan saat mengerjakan cor beton tidak menggunakan vibrator,” ujarnya, Rabu (6/5/2026).

Masyarakat meminta pihak terkait segera turun tangan. “Kami minta Dinas PU memantau proses pekerjaan jalan ini. Jangan sampai mutu beton tidak bertahan lama akibat pelaksana tak mengindahkan kualitas,” tegas Rendi.

Bagi warga, jalur Simpang Raja bukan sekadar jalan provinsi. Ia adalah nadi ekonomi, jalur utama mobilisasi perusahaan, sekaligus akses vital masyarakat.

Sekretaris Dinas PUTR Kabupaten PALI, Hilmansyah, menjelaskan bahwa proyek ini merupakan hasil patungan 10 perusahaan, dengan PT. Musi Hutan Persada (MHP) sebagai penyumbang terbesar.

“Sejak 2024 sudah dibahas, dan akhirnya disepakati pengecoran beton mutu K350. Kami hanya diminta sebagai penengah, bukan pengawas. Dari pengamatan, memang ada tambalan yang menandakan cor beton tidak padat. Harusnya pelaksana menggunakan vibrator agar mutu jalan awet,” jelasnya.

Sementara itu, Budi, perwakilan PT. Adipati Raden Sinun selaku pelaksana, menanggapi keluhan warga dengan santai.

“Adanya retak itu hal biasa di lapangan. Kami mengejar target selesai Agustus 2026, dan mutu tetap kami utamakan. Kalau tidak sesuai mutu, perusahaan tidak akan membayar hasil pekerjaan kami,” katanya.

Proyek miliaran rupiah ini seharusnya menjadi simbol komitmen perusahaan terhadap pembangunan daerah. Namun, keroposnya beton di awal pengerjaan justru menimbulkan tanda tanya besar: apakah jalan ini akan benar-benar kokoh menopang aktivitas ekonomi, atau sekadar menjadi monumen dari mutu yang diabaikan?

Warga kini menunggu langkah tegas pemerintah provinsi dan kabupaten. Sebab, pembangunan bukan hanya soal anggaran besar, tetapi juga soal kualitas yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.(Smsi Pali)

Artikulli paraprakBatching Plant di Tengah Pemukiman: Debu, Bising, dan Protes Warga PALI Meledak

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini