VENEWS Pemerintah Kota Palembang terus mempercantik kawasan strategis kota, khususnya pada sektor wisata kuliner yang menjadi identitas daerah.
Salah satu langkah konkret dilakukan melalui penataan kawasan Pasar 26 Ilir atau yang dikenal sebagai Pasar Pempek, dengan menggandeng Bank Indonesia (BI).
Asisten II Setda Kota Palembang, Isnaini Madani, turun langsung meninjau kondisi lapangan guna memastikan rencana penataan berjalan komprehensif, tidak hanya menyentuh aspek estetika tetapi juga kenyamanan dan standar kesehatan lingkungan.
Penataan ini merupakan bagian dari sinergi Pemkot Palembang dengan program Bank Indonesia dalam pengembangan kawasan Kuliner Halal, Aman, dan Sehat (KHAS), yang tidak hanya berfokus pada sertifikasi produk, tetapi juga pada penguatan ekosistem kawasan secara menyeluruh.
“Pasar 26 Ilir ini sudah dikenal luas, bahkan viral sebagai destinasi kuliner unggulan. Tantangan kita sekarang adalah meningkatkan kualitasnya agar naik kelas dan mampu bersaing dengan destinasi modern lainnya,” ujar Isnaini saat meninjau lokasi.
Ia menjelaskan, rencana penataan mencakup sejumlah aspek strategis.
Di antaranya, revitalisasi tampilan depan kawasan agar lebih representatif, pembangunan gerbang masuk yang ikonik sebagai penanda destinasi wisata.
Kemudian, perbaikan jalur pedestrian untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung, hingga penataan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) sementara agar lebih higienis dan tidak mengganggu aktivitas pasar.
Selain itu, penataan ini juga diarahkan untuk menciptakan pengalaman wisata yang lebih terintegrasi, di mana pengunjung tidak hanya datang untuk berbelanja, tetapi juga merasakan kenyamanan ruang publik yang tertata dengan baik.
Meski saat ini perencanaan teknis masih dalam tahap koordinasi bersama Bank Indonesia, Pemkot Palembang membuka peluang kolaborasi yang lebih luas.
Keterlibatan sektor perbankan lain maupun pihak swasta melalui skema Corporate Social Responsibility (CSR) dinilai penting untuk mempercepat realisasi program tersebut.
“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Perlu kolaborasi multipihak agar penataan ini optimal dan hasilnya benar-benar berdampak,” tegas Isnaini.
“Kita keroyokan supaya tidak setengah-setengah.”
Lebih lanjut, Isnaini menekankan bahwa keberhasilan penataan kawasan tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada partisipasi aktif masyarakat, khususnya para pedagang dan warga sekitar.
Menurutnya, peningkatan kualitas kawasan akan berdampak langsung terhadap daya tarik pengunjung, yang pada akhirnya berimplikasi pada peningkatan aktivitas ekonomi lokal.
“Saat ini banyak destinasi baru bermunculan. Jika kita tidak berbenah, Pasar 26 Ilir bisa tertinggal. Tapi kalau kawasan ini rapi, bersih, dan nyaman, pengunjung akan terus datang. Ujungnya adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat,” pungkas Isnaini. (*)








