VENEWS ,- Satu periode lebih dibawah kepemimpinan Bupati Musi Rawas Hj Ratna Machmud untuk membuat seluruh jalan di Kabupaten Musi Rawas Mulus merata sampai kepelosok desa sepertinya hanya janji manis belaka. Betapa tidak, sejak 4 bulan terkahir masyarakat di Desa Sindang Laya dan Mukti Karya yang berada di kawasan Hutan Tanam Industri (HTI) terisolir.
Akibatnya, warga tidak bisa beraktifitas dan krisis sembilan bahan pokok (Sembako) hingga ada warga yang sakit harus meninggal di jalan karena terlambat ditangani.
Perisitiwa ini disampaikan Kepala Desa (Kades) Sindang Laya, Kecamatan Muara Lakitan, Kabupaten Musi Rawas (Mura), Thamrin Tarius saat mengikuti Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) di Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Mura, Senin (23/2/2026) di Ruang Badan Anggaran Sekretariat DPRD Mura.
“Sudah 4 bulan terakhir ini akses jalan rusak berat hingga lumpuh total atau tidak bisa dilalui,”keluh Tamrin.
Lanjut Tamrin mengatakan, Dengan rusaknya akses jalan ini, membuat seluruh aktifitas masyarakat lumpuh. Bahkan, untuk mengeluarkan hasil pertanian terutama tandan buah segar (TBS) kelapa sawit tidak bisa dan membusuk serta tidak bisa dijual baik ke tengkulak atau Pabrik CPO.
“Disamping tidak bisa mengeluarkan hasil pertanian, Kejadian miris pernah terjadi ketika ia membawa warganya yang sakit untuk berobat. Namun, karena akses jalan yang rusak parah karna kesulitan melintas, membuat warganya tersebut meninggal ditengah perjalanan karena terlambat dibawa kerumah sakiit,”ungkap Tamrin.
Menurutnya, Akses jalan utama masyarakat Sindang Laya merupakan jalan perkebunan PT Musi Hutan Persada (MHP). Dimana, untuk keluar masuk Desa melewati jalan PT MHP hingga ke Desa Anyar dan tembus ke jalan Nasional kurang lebih 7 Kilometer. Namun, kendati begitu butuh berhari-hari agar bisa tembus dan itupun harus bermalam dijalan karena jalan yang hancur lebur.
“Mirisnya jalan ini tidak pernah ada perbaikan atau pengerasan baik dari PT MHP sendiri ataupun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mura. Sehingga, dengan kondisi ini membuat jalan ini tadi hancur lebur. Padahal, ia sudah berulang kali menyampaikan profosal kepada pihak MHP agar jalan dilakukan pengerasan dan tidak pernah ditanggapi.
“Tolonglah bantu dan pikirkan kondisi kami ini ibu Bupati”. Kami ini warga Mura dan masuk dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) juga,”ungkapnya.
Hal senada juga disampaikan, Kepala Desa (Kades) Mukti Karya, Kecamatan Muara Lakitan, Kabupaten Mura, Mulyadi bahwa Desa Mukti Karya sejak 4 bulan terakhir ini juga terisolir. Akibatnya, logistik tidak bisa masuk ke Desa dan walaupun ada harganya melonjak mahal seperti beras mencapai Rp 25 ribu/Kg. Termasuk, harga gas elpiji 3 Kg mencapai Rp 80 ribu/tabung.
Kemudian, baik program Bupati Mura dan Presiden seperti Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) serta Makan Bergizi Gratis (MBG) juga tidak bisa dilaksanakan di Mukti Karya dan Sindang Laya.
Oleh karena itu, ia berharap secepatnya kondisi Desa Mukti Karya dan Sindang Laya yang terisolir ini bisa direspon dan ada bantuan dari Pemkab Mura terutama dilakukan pengerasan. Sebab, kalau mengandalkan PT MHP hingga saat ini belum ada tanggapan serius.
“Kami sangat memohon minimal perbaikan pengerasan saja terlebih dahulu dan tidak harus diaspal. Sebab, kalau memang masalah kawasan hutan kenapa Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel dan PT MHP bisa membangun dan Pemkab Mura tidak bisa dan kenapa kami tidak diperhatikan,”pungkasnya.(SMSI Musi Rawas)







