Home Daerah Musi Banyuasin Dari Singkong ke Mocaf: Desa Simpang Bayat Menyalakan Api Kemandirian Pangan di...

Dari Singkong ke Mocaf: Desa Simpang Bayat Menyalakan Api Kemandirian Pangan di Bulan Ramadan

6
0
Ibu-ibu yang tergabung dalam KWT Embun Pagi binaan Jambi Merang sedang mengolah singkong yang panennya melimpah di desa. Singkong diolah menjadi tepung mocaf yang nilai ekonominya lebih tinggi.

VENEWA – Menjelang azan Magrib, aroma takjil khas Ramadan menyeruak dari dapur-dapur Desa Simpang Bayat.

Cendol dawet yang manis berpadu dengan gurihnya pempek, namun ada rahasia baru yang menyelimuti sajian itu: tepung mocaf, hasil olahan singkong lokal yang kini menjadi simbol kemandirian pangan masyarakat.

Kelompok Wanita Tani (KWT) Embun Pagi di Dusun Selaro, Desa Simpang Bayat, Kecamatan Bayung Lencir, adalah motor penggerak perubahan ini.

Dengan singkong yang selama ini hanya dihargai Rp 2.000 per kilo, mereka bertransformasi melalui pendampingan PHE Jambi Merang.

Singkong yang dulu dianggap biasa kini diolah menjadi tepung mocaf bernilai Rp 34.000 per kilo—lonjakan harga yang mengubah dapur sekaligus ekonomi keluarga.

“Awalnya kami ragu, apakah rasanya bisa sama seperti terigu. Ternyata enak, malah lebih ringan,” ujar Riyanti, 45 tahun, Jumat (27/2/2026), sambil menunjukkan kemasan mocaf berlabel resmi produksi kelompoknya.

Selain tepung, mereka juga membuat eyek-eyek, camilan renyah berbahan singkong yang mulai digemari.

Pendampingan dari PHE Jambi Merang bukan sekadar pelatihan teknis. Standarisasi proses, pengemasan, hingga pemasaran diperkuat.

Produk mocaf dari Simpang Bayat kini rutin tampil di pameran besar seperti Sriwijaya Expo di Palembang.

“Promosi itu penting, supaya masyarakat tahu mocaf bisa jadi alternatif sehat dan bernilai ekonomi,” tambah Riyanti.

Tepung bebas gluten ini lebih mudah dicerna, cocok untuk perut yang kosong seharian. Dari bakwan hingga brownies kukus, dari pempek hingga nastar Lebaran, mocaf membuktikan dirinya bukan sekadar pengganti terigu, melainkan inovasi pangan lokal yang berdaya saing.

Iwan Ridwan Faizal, Manager Community Involvement & Development (CID) Regional 1 PHE Jambi Merang, menegaskan bahwa mocaf membantu mengurangi ketergantungan pada gandum impor.

“Program ini memberi kesempatan bagi ibu rumah tangga untuk lebih berdaya dan terlibat dalam aktivitas ekonomi. Bagi masyarakat, ini simbol kemandirian pangan lokal,” jelasnya.

Kini, di bulan penuh keberkahan, kenyalnya cendol dan gurihnya pempek dari mocaf bukan hanya sajian berbuka. Ia adalah cerita tentang desa yang bangkit, tentang singkong yang naik kelas, dan tentang perempuan desa yang menyalakan api kemandirian dari dapur mereka sendiri.(ril)

Previous articlePolda Gorontalo Luncurkan Desk Ketenagakerjaan: Sinergi Polisi dan Buruh Demi Keadilan Industri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here