{"id":4943,"date":"2024-09-13T18:50:35","date_gmt":"2024-09-13T11:50:35","guid":{"rendered":"https:\/\/venews.id\/?p=4943"},"modified":"2024-09-13T19:39:03","modified_gmt":"2024-09-13T12:39:03","slug":"smart-city-solusi-untuk-menghadapi-tantangan-urbanisasi-dan-pelayanan-publik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/venews.id\/index.php\/2024\/09\/13\/smart-city-solusi-untuk-menghadapi-tantangan-urbanisasi-dan-pelayanan-publik\/","title":{"rendered":"Smart City solusi untuk menghadapi tantangan urbanisasi dan pelayanan publik"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>VENEWS.ID<\/strong> -Jurusan Administrasi\u00a0 Fakultas Ilmu Sosial\u00a0 dan Ilmu Politik\u00a0 Universitas Sriwijaya,Kamis (12\/9\/2024) berhasil menggelar \u00a0seminar internasional bertajuk \u201c<em>Smart City and Public Services in Various Countries\u201d<\/em>, \u00a0di Ruang Gustam Idris, Gedung A, Kampus Indralaya.<\/p>\n<p>Universiti Kebangsaan Malaysia, Prof. Madya Dr. Jalaludin Abdul Malek mengatakan,perkembangan teknologi yang pesat, berbagai negara mulai mengadopsi konsep <em>smart city <\/em>atau kota pintar sebagai solusi untuk menghadapi tantangan urbanisasi dan meningkatnya kebutuhan akan pelayanan publik yang efisien.<\/p>\n<p>\u201cKonsep <em>smart city <\/em>mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dengan manajemen kota untuk menciptakan sistem yang lebih efisien, aman, dan nyaman bagi warga kota,\u201d katanya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Teknologi ini digunakan untuk meningkatkan layanan publik seperti transportasi, pengelolaan energi, pengelolaan sampah, keamanan, dan layanan kesehatan.<\/p>\n<p>Namun, penerapan smart city tidak hanya terbatas pada negara maju. Banyak negara berkembang juga telah mulai menerapkan berbagai inovasi teknologi untuk memecahkan masalah perkotaan mereka.<\/p>\n<p>\u201cSeminar ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana berbagai negara, baik maju maupun berkembang, memanfaatkan teknologi untuk menciptakan kota yang lebih cerdas dan pelayanan publik yang lebih responsif,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p>Pria yang yang memiliki pengalaman luas dalam penelitian dan pengembangan kota pintar di berbagai negara ini, dengan rinci menjelaskan, bagaimana konsep smart city telah diterapkan di beberapa negara dengan keberhasilan yang berbeda.<\/p>\n<p>Tantangan yang dihadapi dalam implementasi teknologi pintar di sektor publik, terutama di negara berkembang.<\/p>\n<p>Masa depan smart city di era digital, dan bagaimana perkembangan ini dapat membantu pemerintah memberikan pelayanan publik yang lebih baik.<\/p>\n<p>\u201cDisini, peserta akan mendapatkan pemahaman tentang bagaimana konsep smart city dapat diimplementasikan di berbagai negara, dengan penekanan pada inovasi-inovasi terkini dalam pengelolaan kota melalui teknologi,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Adanya tantangan tentunya ada peluangnya, dia menjelaskan ,salah satu isu penting yang akan dibahas adalah tantangan yang dihadapi pemerintah dalam mengintegrasikan teknologi dengan kebijakan publik, serta peluang yang muncul dari penggunaan data besar, kecerdasan buatan, dan IoT (<em>Internet of Things).<\/em><\/p>\n<p>\u201cStudi Kasus dari Negara-Negara Maju dan Berkembang, Seminar ini juga akan menyajikan studi kasus dari negara-negara yang telah berhasil mengimplementasikan konsep smart city, baik negara maju seperti Singapura dan Jepang, maupun negara berkembang yang sedang menuju digitalisasi seperti Malaysia dan Indonesia,\u201d tutupnya(ril)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; VENEWS.ID -Jurusan Administrasi\u00a0 Fakultas Ilmu Sosial\u00a0 dan Ilmu Politik\u00a0 Universitas Sriwijaya,Kamis (12\/9\/2024) berhasil menggelar \u00a0seminar internasional bertajuk \u201cSmart City and Public Services in Various Countries\u201d, \u00a0di Ruang Gustam Idris, Gedung A, Kampus Indralaya. Universiti Kebangsaan Malaysia, Prof. Madya Dr. Jalaludin Abdul Malek mengatakan,perkembangan teknologi yang pesat, berbagai negara mulai mengadopsi konsep smart city atau [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4944,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[30],"tags":[],"class_list":["post-4943","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/venews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4943","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/venews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/venews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/venews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/venews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4943"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/venews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4943\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4948,"href":"https:\/\/venews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4943\/revisions\/4948"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/venews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4944"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/venews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4943"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/venews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4943"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/venews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4943"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}