{"id":12714,"date":"2025-12-28T20:09:39","date_gmt":"2025-12-28T13:09:39","guid":{"rendered":"https:\/\/venews.id\/?p=12714"},"modified":"2026-03-05T11:24:03","modified_gmt":"2026-03-05T04:24:03","slug":"hari-kedua-konser-amal-ketika-panggung-bernapas-seni-tidak-lagi-diam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/venews.id\/index.php\/2025\/12\/28\/hari-kedua-konser-amal-ketika-panggung-bernapas-seni-tidak-lagi-diam\/","title":{"rendered":"Hari Kedua Konser Amal Ketika Panggung Bernapas, Seni Tidak Lagi Diam"},"content":{"rendered":"<p><strong>VENEWS<\/strong> \u2014 Minggu (28\/12\/2025).<br \/>\nHari kedua Konser Amal di Kambang Iwak Park membuktikan satu hal penting: ruang publik bisa berubah menjadi ruang empati. Sejak sore hingga larut malam, taman kota ini tidak hanya dipenuhi suara dan gerak, tetapi juga perasaan\u2014musik, puisi, dongeng, dan tari hadir silih berganti, menjadikan panggung sebagai ruang perjumpaan antara seni dan kemanusiaan.<\/p>\n<p>Jika hari pertama berlangsung lebih hening dan reflektif, maka hari kedua tampil lebih berdenyut. Ada bunyi yang mengajak merenung, ada hentakan yang menggerakkan tubuh, dan ada kata-kata yang menembus batin. Semua berpadu dalam satu perayaan solidaritas.<\/p>\n<p>Pembukaan: Simpul yang Mengikat Banyak Tangan<br \/>\nKonser dibuka secara resmi oleh Ketua DKP M. Nasir, didampingi para tokoh dan ketua komunitas pendukung. Hadir dalam pembukaan tersebut Ketua KKPP Kgs. M. Riduan, Ketua Gong Sriwijaya Cheirman, Ketua Kawan Lamo M. Fitriansyah, Ketua Pekat IB Suparman Roman, Gubernur IBF Sumsel Bengbeng, Dr. Zulkhair Ali\u2014mantan Ketua DKSS, perwakilan AKKSI Sumsel Panda, Ketua KCFI Sumsel Yosef Fortas, serta Ali Goik dari Kobar 9.<\/p>\n<p>Deretan nama ini menjadi penanda bahwa konser amal bukan kerja satu kelompok, melainkan hasil simpul kolaborasi lintas komunitas seni, budaya, dan sosial\u2014sebuah gotong royong yang tumbuh dari kesadaran bersama.<\/p>\n<p><strong>Puisi Membuka Pintu Batin<\/strong><br \/>\nSesi awal dimulai dengan pembacaan puisi oleh Vebri Alintani, Anto Narasoma, dan Akifa. Larik-larik puisi menjadi pintu masuk emosional\u2014mengantar penonton pada suasana reflektif sebelum musik mengambil alih panggung.<\/p>\n<p><strong>Bunyi Tradisi yang Terus Hidup<\/strong><br \/>\nLanskap bunyi kemudian dibangun oleh Gong Sriwijaya, yang meramu instrumen tradisional dengan pendekatan modern. Denting dan ritme berlapis menciptakan atmosfer kontemplatif\u2014menandai bahwa tradisi bukan artefak beku, melainkan sumber bunyi yang terus hidup dan dapat ditafsir ulang oleh zaman.<\/p>\n<p>Energi panggung lalu mengalir melalui penampilan KPJ dan Randi Batanghari 9, disusul Komunitas Kawan Lamo yang digawangi M. Fitriansyah dan Tety. Nuansa etnik semakin menguat saat Rejung Pesirah yang dibawakan Ali Goik bersama kawan-kawan menghadirkan lagu-lagu tradisi dengan sentuhan komunikatif dan membumi.<\/p>\n<p><strong>Dentum Urban dan Ledakan Energi<\/strong><br \/>\nRitme semakin meningkat ketika Jammers dengan vokalis Adi Roman tampil memikat, disusul Slanker dengan vokalis Mamen yang membuat kawasan Kambang Iwak terasa lebih membara.<\/p>\n<p>Lapisan musikal makin berwarna lewat Studio 12 di bawah komando Amed, Bucu Band yang dimotori Andivedo, serta RMK di bawah pimpinan Doni. Warna urban, eksperimental, dan lugas berpadu\u2014membuktikan bahwa pesan kemanusiaan dapat disampaikan melalui beragam genre tanpa kehilangan daya sentuh.<\/p>\n<p>Sorotan khusus datang dari KPJ yang digawangi Ludy. Dengan karakter musikal yang kuat dan kedekatan emosional dengan audiens, penampilannya menjembatani semangat kolektif komunitas dengan ekspresi personal, mempertegas solidaritas sebagai napas utama konser amal.<\/p>\n<p><strong>Puisi Kembali Bicara<\/strong><br \/>\nDi sela-sela musik, puisi kembali menemukan momentumnya. Vebri Alintani, mantan Ketua DKP, membawakan puisi Balak Hujan Lebat, yang menyuarakan bencana dan kegetiran manusia di hadapan alam. Nuansa ini berbeda dengan puisi hari pertama karya Tarech Rasyid, Dan Aku Berharap Dak Katek Saling Ngotak I Lagi, yang lebih bernada refleksi sosial.<\/p>\n<p>Keunikan tersendiri hadir lewat Maritza Yozza Sandrina, yang membacakan puisi dengan gaya naratif hangat, menjadikan panggung sebagai ruang lintas generasi. Sementara Akifa membacakan puisi bertema banjir Sumatera karya Inug, menghadirkan pesan ekologis yang kuat dan aktual.<\/p>\n<p><strong>Tubuh sebagai Bahasa Solidaritas<\/strong><br \/>\nMenjelang penutup, Tanjack Kultur menghadirkan performa eksperimental yang memadukan tubuh, bunyi, dan ruang. Kejutan lintas budaya datang dari tari India Sanggar Amesa Dancer pimpinan Abah Sekar, yang mencuri perhatian lewat gerak dinamis dan kostum penuh warna\u2014menegaskan keterbukaan panggung terhadap lintas tradisi.<\/p>\n<p>Klimaks visual malam itu ditutup oleh Sanggar Naga Besaung melalui tarian Plimbangan\u2014gerak simbolik yang memaknai tubuh sebagai doa, harapan, dan solidaritas.<\/p>\n<p><strong>Gembira yang Mengikat<\/strong><\/p>\n<p>Dipandu MC Risma dan Mamen, rangkaian acara mengalir hingga akhir dan ditutup oleh penampilan para penyanyi serta pemusik dangdut dari KKPP. Penyanyi dangdut cilik Nabila, Putri, dan Vina mengajak penonton bergoyang, mencairkan suasana dan menunjukkan bahwa kegembiraan pun bisa menjadi pintu masuk kepedulian.<\/p>\n<p><strong>Empati yang Berwujud Nyata<\/strong><\/p>\n<p>Di balik seluruh rangkaian seni tersebut, Konser Amal hari kedua berhasil menghimpun dana sebesar Rp6.080.000, ditambah beberapa bal pakaian bekas layak pakai. Donasi datang dari pengunjung, komunitas seni, relawan, hingga warga yang sekadar melintas\u2014membuktikan bahwa empati tidak selalu lahir dari panggung, tetapi dari kehadiran bersama.<\/p>\n<p>Hari kedua Konser Amal menegaskan satu hal penting:<br \/>\nseni tidak berhenti pada ekspresi, tetapi bergerak, bernapas, dan menjelma aksi kemanusiaan.(ril)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>VENEWS \u2014 Minggu (28\/12\/2025). Hari kedua Konser Amal di Kambang Iwak Park membuktikan satu hal penting: ruang publik bisa berubah menjadi ruang empati. Sejak sore hingga larut malam, taman kota ini tidak hanya dipenuhi suara dan gerak, tetapi juga perasaan\u2014musik, puisi, dongeng, dan tari hadir silih berganti, menjadikan panggung sebagai ruang perjumpaan antara seni dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":12715,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[74],"tags":[],"class_list":["post-12714","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-peristiwa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/venews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12714","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/venews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/venews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/venews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/venews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12714"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/venews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12714\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":15320,"href":"https:\/\/venews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12714\/revisions\/15320"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/venews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12715"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/venews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12714"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/venews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12714"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/venews.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12714"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}